……Mengenang (alm) WS. Rendra

Negeri ini memang tidak pernah berhenti melahirkan para seniman…ingatlah kita pernah “dipaksa” menghapal para pujangga pada setiap angkatannya dan jumlahnya bukan cuma satu atau dua, kita juga “dipaksa” menghapal puisi dan prosa atau cukup sekedar judulnya saja karena itu akan masuk dalam ujian nasional…keterpaksaan itu pada satu sisi memang memusingkan tapi disisi lain membuat saya jatuh cinta kepada kayanya kesusasteraan kita,  hal yang tersisa yang membuat  bangga lahir di negeri  ini…

Pemaksaan untuk menghapal diluar kepala itu memang tidak dilakoni lagi saat ini, murid-murid lebih diajarkan untuk memahami isi puisi dan prosa, dibiarkan lancar dalam mengekspresikan kehendak hatinya dalam menulis puisi atau sekedar mengarang indah, mereka juga dikenalkan dengan fragmen-fragmen yang menginspirasi, dengan harapan agar seniman-seniman besar seperti Muhammad Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Sutardji Calzoum Bachri, Arswendo Atmowiloto, Widji Thukul, Andrea Hirata, Wahyu Sulaiman Rendra…tetap ada.

Dinamika negeri ini, semankin memuluskan langkah itu, toh seniman-seniman  itu lahir dari margin idealismenya yang tak sesuai dengan fakta sekitarnya, maka seniman yang besar dinegeri ini tidak bermanis-manis kata, panjang lebar berbicara tentang madu cinta, cinta hanya bumbu penyedap agar makan asam perjuangan tetap ber jalan, mereka jerih melihat realita yang ada…mereka berkesenian seirama dengan centang prentang perjalanan negeri ini …tengoklah apa yang digelorakan Chairil Anwar dalam “Antara Karawang – Bekasi” pada tahun 45 , resapi apa yang dimaksud Gunawan Mohammad dalam “Surat-surat Lapar” tahun 61 dan apa yang dikritik Taufik Ismail dalam “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” pada tahun 98.

Tentu yang kita inginkan adalah lestarinya para seniman yang memperkaya khazanah negeri ini, bukannya lestari korupsi dan kebobrokan  yang memiskinkan negeri ini…